Ada cerita sebenarnya, hanya saja ini cerita lama. Tetapi tidak sempat saya tulis di sini karena suatu dan lain hal. Sampai kemudian lupa. Baru ingat bulan ini. Biar tidak lupa lagi, saya tuliskan untuk anda.
Suatu hari di bulan Februari 2008, ada bapak dari bagian perencanaan bertanya kepada saya, sebelum bertanya bapak tersebut bercerita. Berikut ini ceritanya.
Bulan depan (Maret - April 2008) akan dipasang jaringan baru dari gardu induk Mojoagung, Jombang untuk mengurangi beban trafo 6 Gardu induk Mojokerto. Pembangunan jaringan baru tersebut akan berjalan beriringan dengan jaringan lama, tetapi sebagian akan mem-by pass sehingga menjadi jaringan baru, nantinya jaringan baru ini bernama penyulang Gading ( karena melewati desa Gading, Jatirejo, Mojokerto). Sebagian jaringan akan menggunakan jaringan lama yang dimanuver, sebagian lagi menggunakan jaringan yang benar - benar baru.
Pertanyaannya adalah, berapa panjang jaringannya nanti? berapa banyak kebutuhan tiang baru? berapa panjang kabel baru yang dibutuhkan? berapa panjang jaringan lama yang di manuver?
Pertama kali mendengar dalam benak saya, koq banyak amat ya pertanyaannya?
Setelah lihat peta jaringan yang ada, melihat luas dan jarak daerah "kosong" yang akan dilalui oleh jaringan baru tersebut. Akhirnya dengan sedikit analisa ("sok pinter ini, padahal gak blas"), saya sodorkan data - data. Saya lupa detail data - datanya. Saya berikan data - data sesuai kebutuhan bapak tersebut sekaligus menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Sekilas bapak dari perencanaan tersebut "mengiyakan" kemungkinan kebenaran data tersebut.
Setelah itu lama tidak terdengar kabar lagi, sampai ada informasi dari bagian/seksi Operasi, bahwa penyulang baru, Penyulang Gading sudah dioperasikan. Data - data dari penyulang tersebut, bruuukkk !!! masuk ke maja saya.
Dilihat, dibaca, langsung di eksekusi. Lalu apa hubungannya dengan cerita bapak di atas?
Ternyata, data - data yang saya berikan sebelumnya, nyaris sama dengan hasil di lapangan. Artinya, dengan perencanaan yang baik, didukung data - data keruangan yang baik (GIS) dan dengan analisa yang akurat, maka kemungkinan ketidaksesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan di lapangan bisa di minimalisir.
Hal ini bisa juga untuk meminimalisir biaya, baik biaya konstruksi maupun biaya tenaga kerja, karena penjadwalan pekerjaan menjadi jauh lebih baik dan akurat. Karena dalam situasi krisis keuangan global ini, persoallan biaya menjadi sangat sensitif, siapa yang bisa memberikan biaya lebih rendah, maka dia yang akan kompetitif.
Sekali lagi, GIS menunjukkan perannya dalam pengambilan keputusan, baik di tingkat manajemen maupun di tingkat operasional.