Apa hubungan antara makanan dengan GIS?

20 September 2008

Kalau di Kanada sana, sebuah perusaaan GIS bernama DMTI Spatial, yang merupakan penyedia lokasi layanan analisis usaha telah bekerjasama dengan jaringan restoran St-Hubert Bar-B-Q Ltdyang berbasis di Quebec, untuk mengkoordinasikan dan mengatur layanan pesanan makanan di untuk jaringan restoran yang jumlahnya 100 dan berlokasi di Quebec, Ontario dan New Brunswick.

Setiap tahun restoran ini menerima sekitar 2 juta panggilan pemesanan. Dengan menggunakan DMTI’s CanMap Street Files digabungkan dengan kode pos yang sudah diolah dengan menggunakan ArcGIS Server dan ArcGIS Desktop, agent pengelola layanan lokasi di St-Hubert’s call center dapat mengetahui posisi pelanggan dan dengan cepatnya bisa mengirim pesanan ke tempat tinggal si pesan dari restoran terdekat.

Prosesnya bisa digambarkan; pertama kali pelanggan menghubungi call center; call center akan mencata nama alamat serta nomor telepon; kemudian nama ini akan dimasukan ke database sekaligus sistem yang mencari serta menentukan lokasi jaringan restoran terdekat untuk memenuhi pesanan; Pada tahap selanjutnya pemesan cukup menyebutkan nama dan nomor telepon makan secara lebih cepat pesanan bisa diantar. Jika ternyata pelanggan tidak memiliki alamat yang pasti, maka dapat juga dengan menggunakan alamat publik seperti rumah sakit, mall, tempat parkir, taman, dsb.

Sistem ini di Jakarta mirip dengan yang digunakan oleh satu perusahaan Taxi terkenal. Dengan cara yang sama perusahaan taxi akan mengkontak via radio, taksi terdekat untuk menjemput pellangan. Sayangnya dengan keterbatasan data spatial seringkali taksi datang terlambat sekali. Sistem geocoding di Kanada memungkinkan setiap wilayah terdeteksi secara lebih cepat. Itulah pentingya data spatial, bukan cuma jadi hiasan dinding.

Source : http://www.dmtispatial.com

Data induk yang menyangkut jaringan tidak akurat

Di setiap pelanggan PLN, terdapat data - data yang menyangkut pelanggan tersebut. Salah satunya adalah pelanggan tersebut mendapat suplai listrik dari mana, misalnya pelanggan dengan nama A, mendapat suplai listrik dengan data sebagai berikut MJKTO6DRGONHC007A2D3C01. Data ini berkata bahwa pelanggan A mendapat suplai listrik dari gardu induk MJKTO (Mojokerto), di gardu induk Mojokerto terdapat transformator dengan kode 6. Penyulang/feeder nya adalah DRGON (dragon) yang kemudian disalurkan ke gardu distribusi ( yang ada di pinggir - pinggir jalan) dengan kode HC007, jalur jaringan tegangan rendahnya adalah A2 (ke utara 2 tiang), D3 ( ke barat 3 tiang ) dan C01 ( ke selatan 1 tiang).
Itu adalah data - data yang berasal dari data GIS. Akan tetapi di lapangan terjadi banyak sekali perubahan dan perkembangan, Misal seorang pelanggan yang semula di suplai dari gardu distribusi A, tetapi karena di sekitar gardu A tersebut di beri gardu baru, Gardu B misalnya, maka dilakukan pengaturan beban sehingga antara gardu A dan gardu B terjadi keseimbangan beban, sehingga beberapa pelanggan dari gardu A dialihkan ke gardu B.
Jika mengacu ke data - data di atas, maka data pelanggan yang ada di data induk juga seharusnya mengalami perubahan agar sesuai dengan data yang baru. DI sinilah letak persoalannya, karena tim GIS tidak mempunyai kewenangan untuk merubah data, tim GIS hanya bertindak sebagai supplier data. Sementara yang mempunyai hak merubah adalah tim Pengolahan data.
Untuk melakukan perubahan data - data induk, harus melalui prosedur berbelit, dan parahnya lagi, tim GIS tidak masuk dalam prosedur tersebut. Dari kejadian ini, banyak sekali data - data yang ada data induk pelanggan yang sama sekali tidak valid karena merupakan data - data lama yang sudah mengalami banyak sekali perubahan.
Tim GIS seringkali mendapat komplain, entah itu dari kontraktor rekanan atau dari pelanggan yang menyatakan bahwa data - data yang ada di data induk pelanggan tidak akurat. Tetapi tim GIS hanya bisa mengatakan bahwa itu bukan kewenangan Tim GIS untuk merubah data induk tersebut.

Siapa yang patut disalahkan?

Statistik Blog

19 November 2007

Setelah blog ini online beberapa bulan yang lalu, ternyata sudah cukup dikenal dan dimanfaatkan oleh pengguna internet.

Hal ini dapat dilihat di statistik blog yang menunjukkan trafik yang cukup tinggi, dalam 1 minggu terdapat kurang lebih 900 - 1200 kunjungan dari pengguna semua. Statistik lengkap dapat di lihat di sini

 
Sesuatu yang cukup menggembirakan, bahwa ternyata tulisan yang cuma sedikit dan kurang berarti ini ternyata berguna bagi pembaca semua. Padahal ide awal dalam penulisan blog ini hanyalah untuk membuat catatan terhadap segala aktifitas yang penulis lakukan selama bekerja, catatan ini bisa berupa segala aktifitas, baik yang menyenangkan, menjengkelkan atau sesuatu yang bagi penulis adalah sebuah tantangan yang harus dipecahkan.

Kami sebagai penulis mohon sumbang saran dan pendapat dari segenap pembaca semua, terhadap baik buruknya blog ini, dengan harapan penulis bisa memperbaiki baik dari segi penulisan maupun dari kualitas tulisan itu sendiri.

Sekali lagi terima kasih atas kunjungan dan saran pendapat dari pembaca sekalian.

Pengetahuan Peta

29 June 2007

Peta merupakan suatu representasi konvensional (miniatur) dari unsur-unsur (fatures) fisik (alamiah dan buatan manusia) dari sebagian atau keseluruhan permukaan bumi di atas media bidang datar dengan skala tertentu.
Adapun persyaratan-persyaratan geometrik yang harus dipenuhi oleh suatu peta sehingga menjadi peta yang ideal adalah:
1.       Jarak antara titik-titik yang terletak di atas peta harus sesuai dengan jarak aslinya di permukaan bumi (dengan memperhatikan faktor skala tertentu).
2.       Luas suatu unsur yang direpresentasikan di atas peta harus sesuai dengan luas sebenarnya (juga dengan mempertimbangkan skalanya).
3.       Sudut atau arah suatu garis yang direpresentasikan di atas peta harus sesuai dengan arah yang sebenarnya (seperti di permukaan bumi).
4.       Bentuk suatu unsur yang direpresentasikan di atas peta harus sesuai dengan bentuk yang sebenarnya (juga dengan mempertimbangkan faktor skalanya).
Pada kenyataannya di lapangan merupakan hal yang tidak mungkin menggambarkan sebuah peta yang dapat memenuhi semua kriteria di atas, karena permukaan bumi itu sebenarnya melengkung. Sehingga pada saat melakukan proyeksi dari bentuk permukaan bumi yang melengkung tersebut ke dalam bidang datar (kertas) akan terjadi distorsi. Oleh karena itu maka akan ada kriteria yang tidak terpenuhi.
Prioritas kriteria dalam melakukan proyeksi peta tergantung dari penggunaan peta tersebut di lapangan misalnya untuk peta yang digunakan untuk perencanaan Jaringan Listrik, maka yang akan jadi prioritas peta ideal adalah kriteria 1 dan 3, sedangkan peta denah kampus yang akan kita digitasi tentunya kriteria 2 dan 4 yang akan diutamakan.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here