XML Dalam Sistem Informasi Geografis

22 October 2008


    

Kita telah mengenal berbagai format proprietary dari aplikasi-aplikasi SIG yang berbeda-beda, baik dari segi vendor-nya maupun perbedaan versi dari tiap format. Lumrah saja, karena tiap vendor menginginkan format yang efisien dan sesuai dengan aplikasi yang mereka buat. Terdapat fungsi dan aplikasi untuk korvesi antar format, tapi tidak selalu memadai karena ada keunikan dari tiap format yang belum tentu dapat dikonversi ke format lain.

Hal ini juga menjadi hambatan untuk webmapping , karena setiap aplikasi akan memerlukan client environment yang berbeda-beda pula. Tidak semua orang bersedia menginstall software tersendiri (applet khusus, plug-ins tertentu dll) bagi tiap aplikasi webmap yang ingin mereka lihat.

Karena perbedaan format menghambat pemanfaatan data geografis secara lebih luas, diperlukan cara pertukaran data yang dapat dipahami secara global. Fungsi ini dapat dipenuhi oleh XML (eXtensible Markup Language).

 

eXtensible Markup Language

XML adalah bahasa markup yang menyediakan sintaks yang lentur (dapat dikembangkan sesuai kebutuhan) dan independen (tidak tergantung sistem platform). Jadi sesuai untuk sarana pertukaran data antar berbagai ragam sistem, baik lewat internet atau jalur lain [1].

Format ini merupakan rekomendasi dari World Wide Web Consortium. XML memungkinkan untuk memuat baik data koordinat, data penyerta dan instruksi yang menyatakan jenis perlakuan terhadap data tersebut. Perlakuan itu dapat berupa transformasi data ke bentuk lain ataupun untuk menyatakan bagaimana data ditampilkan.

Penggunaan XML memungkinkan penerapan internet SIG dalam bentuk yang lebih terbuka, murah dan beragam tapi tetap kompatibel. Hal tersebut dapat diwujudkan oleh beberapa subset/turunan dari XML, yaitu SVG, XSL dan GML. Dunia XML memang penuh dengan akronim tiga huruf yang kadang membingungkan, untuk itu masing-masing akan coba dipaparkan secara singkat.

 

Scalable Vector Graphics

Untuk keperluan SIG, tentunya diperlukan format untuk tampilan data spasial. Karena XML bersifat general, maka untuk keperluan grafis diperkenalkan suatu subset XML yaitu SVG (Scalable Vector Graphics), suatu standar terbuka untuk grafik 2D yang merupakan rekomendasi dari W3C [2].


Peta Geologi gabungan vektor dan raster[15]

Hasil pemilu dalam SVG.[16]

Penggunaan SVG dalam SIG telah memberikan dampak terutama terhadap aplikasi webmap. Contoh tampilan webmap interaktif yang menggunakan SVG sudah cukup banyak saat ini, seperti gambar di kiri.

SVG memungkinkan penggunaan vektor yang memberikan banyak keunggulan dibanding format raster yang selama ini kita kenal. SVG juga dilengkapi dengan SVG DOM (Document Object Model) untuk membuat peta yang interaktif. Terdapat juga spesifikasi untuk mobile devices (SVG tiny) [2] dan browser phones (pSVG) [8,9]. SVG juga dapat dikompresi sehingga menurunkan ukuran transfer secara signifikan.

Dengan kemampuan SVG untuk memuat data vektor, bitmap dan teks, orang akan menganggap hanya dengan SVG sudah cukup. Dan memang saat ini sudah banyak contoh webmap yang menggunakan SVG, baik untuk tampilan dan data penyertanya [7].

Walau demikian, ada beberapa hal yang tidak tercakup dalam spesifikasi SVG. Misalnya mengenai standar link feature terhadap data, sistem referensi spasial yang digunakan, feature buffer atau standar skema data spasial.
Memang sengaja tidak dicakup karena SVG adalah suatu format grafis umum yang tidak hanya digunakan untuk aplikasi SIG, sehingga pertukaran data secara terbuka akan rumit jika hanya mengandalkan SVG. Untuk itu diperlukan subset XML lain, yaitu GML.

Geographic Markup Language

GML adalah suatu subset XML untuk transformasi dan penyimpanan informasi geografis, baik data spatial ataupun non spatial dari suatu obyek geografis. GML adalah spesifikasi dari OpenGIS Consortium.

Komponen untuk layanan feature geografis[5]

GML menyediakan framework yang terbuka dan independen untuk mendefinisikan obyek dan skema dari suatu aplikasi SIG. Hal ini meningkatkan kemampuan untuk berbagi skema dan informasi geografis [5]. Format ini juga berperan penting dalam implementasi Web Feature Server (WFS).

WFS adalah suatu modul yang mengimplementasikan interface standar untuk operasi data spasial yang berada dalam suatu datastore [5]. Datastore tersebut dapat berupa general SQL database, flat XML file, spasial database, proprietary format dll, dan manipulasi terhadap datanya dapat dilakukan melalui Web. HTTP server adalah server yang dapat melayani HTTP request. Aplikasi klien adalah aplikasi yang berkomunikasi dengan web server menggunakan HTTP, misalnya suatu browser.

Standar yang interoperable mempermudah klien dalam menggunakan web sebagai sarana mengakses data geografis dan servis geografis lainnya. Tentu saja, GML hanya mengatur mengenai skema dan penulisan data spasial, sedangkan untuk menampilkannya dapat menggunakan SVG.

 

Extensible Stylesheet Language

XSL merupakan subset dari XML yang direkomendasikan W3C untuk mendefinisikan stylesheets [3]. Suatu dokumen XML dengan struktur tertentu dapat diproses oleh suatu XSL stylesheet menjadi bentuk lain yang diinginkan. Karena XSL adalah bahasa prosedural, XSL hanya berfungsi jika diterjemahkan menggunakan XSL Transformation (XSLT) [4].

XSL dipergunakan untuk mentransformasikan data (GML) menjadi tampilan grafis di klien (SVG). Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan prosesor untuk XSLT seperti Xalan atau Saxon. Di server hal ini dapat dilakukan secara otomatis untuk menghasilkan SVG. Sedangkan di sisi klien hal ini - paling tidak saat ini - masih harus dilakukan secara manual, karena browser belum memberikan keleluasaan untuk itu.

Cara lain untuk mengubah GML menjadi SVG, adalah dengan langsung mengakses Document Object Model, baik di server ataupun di klien. Di server, dapat dilakukan dengan menggunakan servlet, atau server scripts, atau aplikasi lain yang mampu mengakses DOM dari suatu dokumen XML. Di sisi klien, cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan EcmaScript.

 

Peta dengan XML

Jika melihat format XML yang berupa tag-tag dalam bentuk teks, akan sulit membayangkan membuat aplikasi SIG berdasarkan XML. Tapi XML bukanlah bahasa pemrograman, melainkan data yang diproses oleh User Agent (aplikasi di server, browser dll) dengan instruksi tertentu.

Jika kita sudah memiliki data GML (baik berupa file yang dihasilkan suatu aplikasi atau stream dari web), data tersebut harus diolah lebih lanjut agar dapat ditampilkan. Dalam GML dimungkinkan untuk merujuk pada suatu skema data sehingga pemrosesan GML dilakukan berdasarkan skema tersebut.
GML kemudian dapat ditransformasikan menggunakan XSL-XSLT, yang dapat dilakukan baik di server (misalnya Cocoon) atau secara lokal (misalnya menggunakan Saxon, atau parsing menggunakan clientside script). Di masa datang diharapkan XSL dapat dilaksanakan langsung di browser.

Setelah melalui proses transformasi, file GML akan menjadi SVG yang dapat dilihat menggunakan browser. (contoh file GML, XSL dan SVG dapat dilihat di bagian akhir). Saat ini, SVG di browser masih memerlukan plug-ins, karena SVG masih merupakan format yang baru, sehingga membutuhkan waktu bagi pembuat browser untuk mengadopsi-nya. Kecuali anda menggunakan browser khusus SVG seperti Amaya atau Batik.

Proses tersebut, mulai dari data, proses dan output semuanya berupa dokumen XML. Hal lainnya adalah proses ini dapat dilakukan menggunakan software-software opensource.

Sekilas muncul pertanyaan, mengapa tidak langsung menghasilkan SVG dari database atau aplikasi lainnya? Mengapa harus melalui GML?[18] Ilustrasi berikut mengenai Web Feature Server mungkin dapat membantu.


Konsep penggunaan XML dan pertukaran data

Penggunaan format XML (dalam hal ini GML) sangat penting karena berfungsi sebagai jembatan, terutama untuk penerapan Web Feature Server[14].


Dari binary ke teks

Sampai di sini mungkin masih ada yang mengganjal. Bagaimana mengubah data-data SIG yang sudah ada dan umumnya dalam bentuk binary ke XML? Hal ini masih harus dilakukan karena saat ini data-data SIG umumnya adalah dalam format proprietary (shapefile/dbf, mif/mid dll) yang berupa binary.

Beberapa cara yang dilakukan antara lain :

  • Dapat menggunakan bahasa pemrograman/script yang terdapat pada aplikasi SIG untuk mengambil data-data dan menghasilkan format XML (misalnya avenue pada ArcView 3.x, VB pada ArcGIS, atau mapBasic pada MapIfo).
  • Memasukkan data SIG dalam database, dan membuat file XML baik dengan fungsi yang ada pada database atau dengan bantuan aplikasi lain (PHP, perl, JSP, XSQL, XSL dll) [10].
  • Jika tidak memiliki software SIG, dapat membuat sendiri program yang membaca format binary, kemudian dieksport ke XML atau database. Ada juga aplikasi opensource maupun komersial yang dapat melakukan hal ini untuk beberapa format binary SIG [13].
  • Menggunakan aplikasi yang berjalan di server untuk membaca format binary dan langsung di-stream melalui web dalam bentuk GML.

Di masa datang hal ini akan lebih mudah, karena vendor applikasi SIG akan mengadopsi format XML atau turunannya baik untuk proses import atau export. Selain itu perkembangan teknologi GPS memungkinkan untuk langsung memproses data koordinat [11].

XML bukan hanya sekedar suatu format data, dan memang tidak didesain sebagai format penyimpanan semata. Data-data aplikasi SIG besar kemungkinan akan tetap menggunakan format proprietary, karena masing-masing vendor aplikasi SIG mempunyai pertimbangannya masing-masing (efisiensi, investasi yang ditanam dalam format tsb, proteksi dll). XML lebih berguna sebagai sarana pertukaran baik offline atau online.

Untuk database, perlu dipertimbangkan bahwa data XML bersifat hirarkis, sedangkan database relational. Selain itu database saat ini sudah ada yang memiliki kemampuan spasial. Jadi penyimpanan di database akan lebih memadai, dan struktur database-nya terserah kepada masing-masing pihak. Hasil query dapat disusun dan dikirim kepada klien dalam format XML tertentu yang sesuai [10].

 

Keuntungan penggunaan XML dalam SIG

Dengan segala kerepotan ini, keuntungan apa yang dapat diambil? Banyak sekali.

  • Format yang berupa standar terbuka.
  • Peta berbasiskan vektor dengan kualitas grafis yang baik.
  • Fasilitas DOM untuk modifikasi dokumen dan interaksi dengan pengguna.
  • Lebih hemat bandwith.
  • Extensible dengan berbagai teknologi di server (servlets, JSP, ASP, PHP, Pearl dll).
  • Konfigurasi sistem klien yang generik dan fleksibel.
  • Penerapan konsep pemisahan isi dari style, berarti memudahkan manajemen data.
  • Implementasi SIG yang tidak memerlukan biaya besar, lebih terjangkau oleh semua pihak.
  • Klien yang berdasarkan pada interface standar memungkinkan koneksi ke berbagai server, database, web service dll.
  • Memungkinkan adanya desentralisasi data geografis dengan pendekatan bottom up [6].
  • Data yang terdistribusi di berbagai tempat dapat diekstrak kemudian diintegrasikan secara mudah, selama tetap menggunakan format pertukaran standar.
  • Membuka peluang bagi terciptanya Sistem Informasi Kolaboratif [12].
  • Integrasi dengan non-GIS software, karena XML merambah ke semua bidang. Basis pengguna SIG bertambah luas.
  • Interaksi SIG dengan bidang lain secara lebih luas, dan penggunaan SIG untuk bidang yang selama ini belum terjamah SIG.

Beberapa keuntungan diatas memang dapat tercapai jika penggunaan XML telah diadopsi secara luas, yang diyakini hanya masalah waktu saja.

 

Hambatan

- Penggunaan XML belum mencapai tahap massal.
- SVG masih belum disupport secara native di beberapa browser, jadi saat ini masih memerlukan plugins.
Hal diatas memang wajar terjadi karena ada rentang waktu yang diperlukan dalam setiap pengadopsian teknologi baru.
- Masalah HAKI, tidak semua data disediakan untuk publik.
- Masalah organisasi dari institusi/badan/perusahaan untuk berkolaborasi bersama-sama.
- Kesenjangan teknologi informasi yang kita alami di Indonesia (istilah gagahnya adalah digital divide), baik di tingkat bawah, menengah dan atas.

 

Penutup

Seperti juga pada bidang lain, XML akan membawa SIG kepada penerapan standar terbuka yang memudahkan akses dan pertukaran data geografis. Hal ini memungkinkan terciptanya kerjasama yang lebih terintegrasi antara pihak-pihak yang langsung terkait dengan SIG, juga dengan pihak lain yang selama ini belum memanfaatkan dan dimanfaatkan untuk SIG.
Sisi lain adalah penerapan yang mudah dan murah akan bermanfaat terutama bagi yang memiliki sumberdaya terbatas. Bertambahnya pengguna SIG akan mendorong pengembangan SIG dari bawah, dengan partisipasi aktif masyarakat dalam melakukan self-survey SIG[17].

Sumber: geografiana.com

Peta Digital dan GIS Kian Berperan Dalam Keputusan Bisnis

13 October 2008

Salah satu perusahaan rokok nasional berskala global sempat kebingungan untuk menentukan lokasi pemasangan papan reklame (baliho)-nya di Pulau Jawa. Pasalnya, perusahaan tersebut memiliki beberapa merek produk yang masing-masing memiliki kelompok konsumen atau segmen pasar berbeda.

"Akhirnya, perusahaan tersebut memanfaatkan peta digital dan Geographical Information System (GIS). Dengan teknologi ini, setiap merek produknya dapat dipromosikan secara lebih tepat ke konsumennya," kata Agung Prabowo (agung.prabowo@maxxima-tecnology.com), praktisi GIS yang lulusan Departemen Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) 1998.

Pemegang lisensi ESRI, pengembang aplikasi peta digital dan Sistem Informasi Geografis (GIS) terbesar sedunia, itu mengemukakan bahwa peta digital (digital maps), apalagi yang berteknologi GIS, kian berperan dalam berbagai pengambilan keputusan bisnis karena mampu menyajikan sejumlah informasi geografis secara terinci.

Peta digital secara rupa bumi yang secara prinsip seluruh tahapan produksinya menggunakan teknik digital, mulai dari pengumpulan foto udara melalui alat fotogametri analitis, proses penyuntingan (editing), desain kartografi sampai dengan proses separasi warna sebelum dicetak.

Proses melengkapi data secara digital membuat peta yang dihasilkan menjadi sangat teliti, bahkan jika dibanding peta konvensional dalam bentuk cetak, maka lebih mudah dan murah untuk dimutakhirkan.

Selain itu, peta digital hasil dokumennya menjadi sangat bervariasi pemanfaatannya lantaran format digitalnya (softcopy) dapat pula dicetak ke kertas (hardcopy) dalam berbagai ukuran berdasarkan ketajaman kapasitas menggunakan komputer maupun hasil tercetaknya. Hal inilah yang bakal mempengaruhi satuan besaran pembanding (skala) petanya.

"Untuk berbagai kepentingan bisnis, maka skala peta digital berskala 1:5.000 sudah ideal untuk dimanfaatkan." ujar Agung Prabowo yang juga Direktur PT Maxxima Innovative Engineering (http://www.maxxima-technology.com), perusahaan penyedia jasa peta digital, GIS, simulasi tempur, dan sejumlah aplikasi bisnis.

Sementara itu, GIS adalah aplikasi komputer untuk memasukkan, menata, mengolah dan memaparkan data yang memiliki referensi ruang, termasuk data peta digital. GIS meliputi banyak sektor kepentingan, antara lain analisis lingkungan hidup, optimasi jalur lalu lintas, perencanaan wilayah, manajemen pengembangan fasilitas umum, dan riset pasar.

Aplikasi GIS dapat digabungkan dengan data tematik yang belum terdapat pada peta rupabumi, misalnya data kependudukan, data lalu lintas, dan jalur hijau.

Kemampuan GIS sebagai alat bantu mengetahui data kependudukan, manajemen pengembangan fasilitas umum dan riset pasar itulah yang membuat satu perusahaan rokok nasional mampu mengambil keputusan bisnis berupa di lokasi mana saja setiap baliho iklannya di tempatkan berdasarkan segmen pasar konsumennya.

Peta digital hanya menyediakan data baku menyangkut geometri permukaan bumi yang tepat, sehingga dalam aplikasi GIS dimungkinkan dimasukkan data analisis, seperti lokasi titik rawan banjir, kawasan produksi padi, simulasi propagasi gelombang radio dan perkiraan lokasi rawan kecelakaan di jalan raya yang dapat langsung dianalisis melalui komputer.

Sejalan dengan perkembangan produk berteknologi informasi, maka dewasa ini berbagai analisis peta digital dan GIS dimungkinkan menggunakan komputer jinjing (laptop, notebook), bahkan Personal Digital Assistant (PDA) dan telepon seluler (ponsel) yang memiliki aplikasi pendukungnya.

Bahkan, teknologi peta digital dan GIS dewasa ini kian berkembang dapat diakses melalui Internet dan dapat diintegrasikan dengan citra satelit, selain semakin marak pula yang aplikasi sekaligus datanya menjadi bonus dalam paket penjualan laptop maupun ponsel jenis tertentu.

"Formatnya yang digital membuat peta digital dan GIS menjadi fleksibel untuk dimanfaatkan menggunakan berbagai perangkat, bahkan secara mobile," demikian Agung Prabowo, yang juga mengelola http://www.digital cartes.com untuk layanan piranti peta digital dan GIS.

 

sumber : http://www.antara.co.id

Google Maps for Mobile, Navigasi tanpa Ponsel GPS

Saat ini telah beredar berbagai jenis ponsel yang mendukung GPS. Masing-masing ponsel memiliki dukungan peta yang beragam. Ada yang hanya mendukung kota-kota besar, dan ada yang dapat digunakan sampai ke pedesaan. Sayangnya rata-rata ponsel yang memiliki dukungan GPS masih relatif mahal.

Namun jangan kuatir. Kita yang tidak punya ponsel GPS bisa menggunakan Google Maps for Mobile. Google Maps (http://m.google.com/maps) merupakan aplikasi gratisan dari Google yang membantu Anda menemukan suatu lokasi, termasuk penunjuk jalan, alamat dan nomor telepon. Dalam pengoperasiannya Anda memiliki dua opsi: peta standar dan citra satelit. Jika menggunakan modus peta, tampilan yang Anda dapatkan akan sama dengan melihat peta di atlas. Sedangkan bila mengaktifkan citra satelit, Anda akan mendapatkan tampilan riil permukaan bumi pada layar seperti menggunakan Google Earth di PC. Pengenal Lokasi dan Penunjuk Arah Selain berfungsi sebagai peta dengan dua modus tampilan, Google Maps menyertakan fitur My Location. Fitur ini memungkinkan Anda untuk menemukan lokasi Anda sendiri di peta.

Pada ponsel yang memiliki fitur GPS, pengenalan lokasi dapat dilakukan dengan sangat akurat, dengan koordinat. Sementara bagi ponsel yang tidak dilengkapi dengan GPS, keakuratan fitur ini berada dalam radius 1km. Informasi lokasi Anda didapat dari lokasi BTS yang Anda gunakan untuk mengakses Google Maps. Berbekal kehebatan fitur My Location tadi, berbagai aplikasi lainpun dikembangkan. Dengan menggabungkan kemampuan My Location dengan mesin pencari lokal milik Google, Anda dapat menemukan tempat-tempat menarik yang berada di sekitar Anda. Jika ingin tahu lokasi café terdekat misalnya, dengan satu kali tekan tombol di ponsel Anda akan memperoleh daftar café yang berada di sekitar Anda beserta jam beroperasi dan nomor teleponnya. Fitur lainnya yang bisa Anda peroleh ialah penunjuk arah. Berdasarkan informasi lokasi awal yang diperoleh dari fitur My Location, Anda bisa menentukan lokasi tujuan dan jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut, yang akan diberikan secara otomatis.

Sayangnya, dalam percobaan yang dilakukan Sinyal, Google Maps gagal menemukan posisi penulis. Google menunjuk lokasi penulis berada di Bogor, padahal penulis sedang berada di Bali. Ini menyebabkan penunjuk arah tidak dapat bekerja dengan akurat. Namun, kondisi ini masih bisa dimaklumi mengingat fitur My Location masih dalam uji coba alias versi beta. Jika Anda juga mendapati Google Maps gagal mendeteksi lokasi Anda, supaya Anda tidak kesasar lagi dengan fitur My Location, tekan angka 0 pada pad untuk mematikan fitur ini. Di beberapa kota besar di dunia, Anda bisa mendapatkan kemampuan Google Maps yang lebih hebat lagi. Dari aplikasi ini, Anda bisa mendapatkan jadwal bus dan subway, sekaligus bisa membantu menentukan tempat dan waktu transit yang diperlukan. Tak sampai di situ saja, Anda juga dapat memantau kepadatan lalu lintas berdasarkan warna merah, kuning atau hijau yang ditampilkan pada peta. Warna hijau menandakan kendaraan dapat bergerak dengan kecepatan di atas 50 mph, warna kuning menandakan kepadatan lalu lintas memungkinkan berkendara dengan kecepatan 25 sampai 50 mph sementara kurang dari itu akan diwarnai dengan warna merah. Informasi ini didapat secara real time berdasarkan kondisi sebenarnya.

Persyaratan Sistem Sebenarnya persyaratan untuk menjalankan Google Maps for Mobile tidaklah berat. Anda bisa menggunakan berbagai merk, jenis dan tipe ponsel yang mendukung Java, termasuk berbagai gadget dengan sistem operasi Windows Mobile, Palm, Symbian, ataupun Blackberry. Yang membuat Google Maps for Mobile begitu “berat” ialah akses datanya. Google Maps membutuhkan akses internet real time secara terus menerus untuk mendapatkan informasi terkini yang ada di server, serta pengunduhan peta dan citra satelit untuk area-area yang Anda akses. Belum lagi jika Anda melakukan pencarian dari Google Maps. Akumulasi penggunaan data akan menjadi sangat besar.

Sinyal menyarankan Anda untuk menggunakan akses data unlimited atau setidaknya paket data saat menggunakan aplikasi ini jika tak ingin tagihan seluler Anda bulan depan meledak atau pulsa menjadi 0 dalam sesaat. Instalasi Meng-install Google Maps for Mobile di ponsel sangat mudah. Anda cukup mengunjungi http://m.google.com/maps dari ponsel dan menglik link untuk download. Saat muncul konfirmasi untuk pengunduhan, jawab dengan Yes. Usai mengunduh, Anda akan mendapat konfirmasi untuk proses instalasi. Jawab lagi dengan Yes. Tak lama kemudian, Google Maps akan terinstal di ponsel Anda.

Cara Pakai Google Maps

1. Setelah Google Maps ter-install, jalankan aplikasi tersebut. Caranya, masuklah ke menu Applications pada ponsel, lalu carilah aplikasi Google Maps yang menggunakan Icon bergambar kompas. Saat pertama kali menjalankan, Anda akan melihat Google Maps menanyakan apakah Anda memperbolehkan aplikasi tersebut untuk mengakses Internet atau tidak. Anda harus menjawab Yes pada pertanyaan ini agar Google Maps dapat berkomunikasi dengan server Google.

2. Sesaat kemudian fitur My Location akan bekerja dan Anda akan dibawa ke lokasi di mana Anda terdeteksi. Anda dapat menggunakan panah kiri, kanan, atas dan bawah untuk berpindah ke area yang tidak terlihat di layar. Proses ini akan membutuhkan beberapa saat karena Google Maps harus mengunduh gambar untuk area baru tersebut.

3. Untuk melihat gambar lebih detil, lakukan zoom dengan menekan angka 3 pada pad. Untuk kembali ke posisi zoom awal, tekan angka 1. Saat melakukan zoom lagi-lagi Anda harus menunggu beberapa saat untuk proses unduh gambar dari server.

4. Untuk menggunakan penunjuk arah, masuklah ke menu Directions. Tentukan lokasi awalnya pada bagian Start Point dan lokasi tujuan pada bagian End Point. Tak lama kemudian, Google Maps akan menunjukkan arah jalan untuk menuju tempat tujuan Anda.

5. Menemukan lokasi tertentu di Google Maps sangatlah mudah. Anda tinggal menekan menu Search dan memasukkan apa yang Anda cari. Anda boleh memasukkan nama tempat, nama jalan, tempat-tempat wisata, dan sebagainya. Setelah tempat favorit ditemukan, Anda dapat menyimpannya dengan menekan tombol * pada pad ponsel. Di jendela Favourites terdapat sembilan tempat yang bisa Anda gunakan untuk menyimpan lokasi favorit Anda. Di kemudian hari, untuk kembali ke lokasi favorit Anda, cukup aktifkan menu favorit, lalu pilih lokasi yang terdapat pada daftar.

6. Jika Anda ingin beralih dari mode citra satelit ke peta, tekan angka 2 pada pad ponsel. Selamat menjelajah dunia dengan Google Maps. TIP: Seiring dengan berjalannya waktu dan akses yang Anda lakukan, ukuran aplikasi Google Maps akan semakin besar. Anda dapat membersihkan memori dengan mereset Google Maps. Caranya, masuklah ke menu Help > Reset Google Maps > Reset Google Maps.

 

sumber : http://tekno.kompas.com

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here