Data lapangan vs Data GIS

14 September 2007

Dalam praktek sehari - hari, perubahan data lapangan adalah sesuatu yang biasa terjadi karena dinamika perkembangan di lapangan yang mengharuskan terjadinya perubahan tersebut. Dalam kaitan dengan hal tersebut data - data GIS juga harus

mengikutinya.
Persoalan muncul ketika data - data tersebut harus mempunyai identitas unik dan harus terurut sesuai kondisi lapangan, sehingga memudahkan dalam tracing nantinya. Sebuah misal, Ada 100 tiang listrik dilapangan, dengan identitas urut mulai awal

sampai akhir, untuk memenuhi permintaan, di lapangan diberikan sisipan tiang diantara tiang ke 2 dan ke 3, akibat yang terjadi adalah kita harus memberikan penomoran ulang untuk semua tiang mulai tiang nomor 3 sampai tiang nomor 100.
Hal ini menjadi persoalan tersendiri karena nomor - nomor tiang ini juga berkaitan erat dengan data - data lain yang terkait dengan nomor tiang ini. Misalnya data pelanggan yang mengambil suplai daya dari tiang tersebut, yang juga harus berubah

sesuai dengan penomoran baru tersebut.
Banyak sekali implikasi yang terjadi dengan perubahan kondisi lapangan terhadap data - data GIS supaya data - data GIS selalu update. Seringkali perubahan kondisi lapangan yang hanya dikerjakan dalam waktu 1 hari saja, ternyata perubahan data di

GIS harus memakan waktu 1 minggu.
Sampai saat ini, kami belum mempunyai formula yang tepat agar perubahan kondisi di lapangan segera bisa diikuti oleh data GIS tanpa perlu memakan waktu yang relatif lama. Dan ini selalu menjadi pemikiran kami untuk bisa membuat formula yang tepat

dan dapat diterapkan untuk semua kondisi lapangan. Tentu saja sulit untuk dilakukan, tapi bukan tidak mungkin.

Akurasi GPS

5 September 2007

Selama ini, dalam aktifitas sehari - hari, dalam melakukan digitasi lapangan digunakan GPS merk Garmin tipe 12XL. Mungkin ini merk lama dan sudah ada versi baru dan yang lebih canggih.
Dalam praktek, ternyata tingkat ketepatan dalam melakukan digitasi agak kurang baik. Mungkin karena tingkat toleransinya yang cukup besar. Hal ini ditandai ketika melakukan digitasi satu titik dengan dua kali digitasi dalam waktu yang berbeda, hasilnya juga berbeda.
Apalagi jika dilakukan 2 sampai 3 kali digitasi, hampir semuanya tidak mengacu ke satu titik yang sama.
Dalam beberapa hal, perbedaannya bisa antara 1 meter sampai 5 meter. Hal ini membuat akurasi map / peta yang digambar berdasarkan data GPS tersebut juga akan kurang akurat.
Untuk menyikapi dan mengantisipasi hal ini, dilakukan digitasi berulang - ulang, minimal 2 kali, nilai dari hasil digitasi tersebut dibuat rata - rata dan titik hasil rata - rata tersebut yang dijadikan acuan dalam penggambaran di map/peta.
Antisipasi seperti ini memang harus dilakukan untuk membuat map/peta yang digambar menjadi akurat, dengan resiko pemborosan waktu karena satu hal dikerjakan bisa dua atau tiga kali.
Dalam kasus lain, juga kejadiannya mirip, ketika melakukan tracing terhadap jalan, untuk menggambar jalan raya. Tracing dilakukan ketika berangkat dari posisi awal menuju posisi akhir. Untuk lebih memastikan kebenaran hasilnya, dilakukan tracing lagi dari posisi akhir ke posisi awal.
Ketika hasil tracing tersebut di transfer ke komputer, nampak hasilnya dalam beberapa titik agak berbeda. Bisa jadi karena posisi kendaraan yang memang tidak benar - benar pas ketika pergi dan ketika pulang, tetapi mungkin juga karena akurasi GPS nya yang memang tidak memberikan titik yang benar - benar sesuai.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here