Load Layer di ArcGIS

1 July 2009

Ini adalah contoh Script VBA di ArcMap, gunanya adalah untuk load shapefile ke Dataframe.

Private Sub LoadMap()

‘definisikan Workspacefactory sebagai sumber data, dalam hal ini adalah shapefile
Dim pWorkspaceFactory As IWorkspaceFactory
Set pWorkspaceFactory = New ShapefileWorkspaceFactory

‘definisikan lokasi feature, bisa diganti sesuai lokasi shapefile
Dim pWorkspace As IFeatureWorkspace
‘Ganti drive dan folder tempat file shp anda
Set pWorkspace = pWorkspaceFactory.OpenFromFile(”c:\map”, 0)

‘definisikan tempat load mapnya, dalam hal ini map akan di-load ke active document
‘yaitu gis.mxd yang sedang dibuka.
Dim pMxDoc As IMxDocument
Set pMxDoc = ThisDocument

‘definisikan Geographic View
Dim pActiveView As IActiveView

‘definisikan feature dan buka
Dim pClass As IFeatureClass

‘buka parcels.shp
Set pClass = pWorkspace.OpenFeatureClass(”parcels”)

‘jadikan feature yang dibuka di atas sebagai layer baru
Dim pLayer As IFeatureLayer
Set pLayer = New FeatureLayer
Set pLayer.FeatureClass = pClass
pLayer.Name = pClass.AliasName

‘tambahkan layer ke document
pMxDoc.AddLayer pLayer

‘refresh geographic view
pMxDoc.ActiveView.Refresh

End Sub

Sukses Pertama: membuat Titik di ArcGIS dengan bantuan VBA

24 June 2009

Dengan berbagai macam upaya, saya bekerja sama dengan teman - teman untuk memecahkan kebuntuan dalam melakukan migrasi script avenue (arc view 3.3) ke vba script (arcgis 9.0) akhirnya menampakkan sedikit progress yang bagi kami sangat luar biasa.
Ini adalah keberhasilan kami pertama dalam upaya melakukan migrasi Arc View ke ArcGIS. Keberhasilan tersebut adalah kami bisa membuat sebuah Point (IPoint) hanya dengan 1 klik klik mouse di area kerja ( istilah arcgis WorkSpace).
Ini adalah sesuatu yang luar biasa bagi kami, karena ini merupakan gerbang untuk bisa menguak “misteri” VBA di Arc GIS. Dengan satu keberhasilan ini, kami berharap (dengan analogi) untuk selanjutnya kami bisa menggambar Polyline dan Polygon hanya dengan sentuhan mouse.
Suatu saat kami akan berbagi dengan anda, bagaimana cara kami untuk bisa membuat point di arc gis project (*.mxd) kami. Sementara untuk saat ini kami belum bisa mempublish ke khalayak karena masih dalam taraf uji coba, kami khawatir masih ada persoalan yang belum kami ketahui di belakang hari.
Untuk itu sabar saja. Karena kami melihat di posting - posting blog atau di milis - milis, banyak sekali yang mengalami masalah yang sama dengan kami, mudah - mudahan kami bisa membantu, tetapi mungkin tidak dalam waktu dekat.

Pemrograman VBA di ArcGIS

Sebenarnya sejak 2 tahun yang lalu saya sudah mengenal dan menggunakan ArcGIS versi 9.0 dalam aplikasi pekerjaan sehari - hari. tetapi sampai hari ini, saya masih belum bisa meninggalkan arcView 3.3 sebagai tool dalam digitasi dan updating peta.
Banyak alasan yang melatarbelakanginya, tetapi kurang lebih akan sama dengan ulasan yanga ada di blog sebelah. lihat di sini: http://www.raharjo.org/rsgis/mengapa-pengguna-esri-sulit-migrasi-dari-arcview-3x-ke-arcgis.html
Saya dan teman - teman sudah membuat tool otomasi digitasi dan editing peta dengan arcview melalui avenue scriptnya. Sehingga dalam bekerja tidak lagi mengalami kesulitan berarti karena semuanya serba otomatis dengan bantuan avenue.
Mendengar bahwa ternyata banyak kelemahan arc view 3.3 sehingga tidak didukung lagi oleh generasi terbaru software ESRI, membuat saya dan teman - teman mencoba untuk migrasi ke arc gis 9.0 ( lisensi di kantor 9.0, walaupun sudah tersedia versi 9.3).
Untuk melakukan proses migrasi ini ternyata sangat sangat sulit, bahasa yang digunakan bukan lagi avenue, tetapi visual basic for application (VBA) yang sangat berbeda dengan arc view. Bagi beberapa teman yang sudah menguasai Visual Basic, hal ini agak mendingan.
Walaupun agak mendingan, tetapi terminologi dan istilah - istilah yang digunakan sangat sangat baru, bahkan bagi seorang programmer VB expert sekalipun. Sehingga apa yang saya lakukan seperti membentur batu besar yang sangat kuat sehingga nyaris tidak ada jalan lagi untuk bisa memigrasikan avenue di arc view 3.3 ke VBA di arcgis 9.0
Saya coba masuk ke situsnya ESRI Developer Network (EDN) tetapi juga tidak banyak membantu dalam upaya saya membongkar “batu besar” yang menghadang saya tersebut. Saya tanya sana sini, google adalah makanan sehari - hari saya, tetapi sampai sejauh ini upaya tersebut belum juga menunjukkan titik terang.

Permudah Investor, Pemkab Pangkalpinang Buat Peta GIS

20 February 2009

Pemerintah Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2008 miliki Peta Geografis Informasi Sistem (GIS) guna mempermudah investor mencari lahan strategis dan menanamkan modalnya di Kota Pangkalpinang.

“Pemkot Pangkalpinang telah melakukan pendataan pemilik lahan dan membentuk Peta GIS Pangkalpinang sejak tahun 2004 hingga 2008, guna memberikan pelayanan pertanahan cepat dan akurat, sehingga investor mudah mencari lahan yang tepat untuk menanamkan modalnya,” kata Kepala Dinas Pertanahan Kota Pangkalpinang, A. Roni Rhacman, di Pangkalpinang, Selasa (27/5).

Ia menjelaskan, Peta GIS saat ini mencakup tiga dari lima kecamatan di Kota Pangkalpinang, yaitu Kecamatan Taman Sari, Gerunggang dan Rangkui, sementara dua kecamatan lagi yaitu Pangkalbalam dan Bukit Intan, Peta GIS-nya diperkirakan selesai pada 2009.

Secara bertahap, Peta GIS yang dibuat dengan menggunakan dana APBD Kota Pangkalpinang itu akan di-Online-kan melalui internet di Kota Pangkalpinang, sehingga dapat diakses oleh calon investor, pengembang serta masyarakat luas yang ingin mencari informasi terkait lahan di Kota Pangkalpinang.

“Hingga tahun 2008, luas Kota Pangkalpinang mencapai 119 Km/persegi dan lahan di tiga kecamatannya telah terpetakan GIS dengan optimal, sehingga para investor dan pihak pengembang yang ingin menanamkan modalnya di Pangkalpinang menjadi mudah memperoleh informasi yang akurat,” ujarnya.

Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat, pemerintah Kota Pangkalpinang melakukan upaya-upaya konkrit untuk mempermudah investor, salah satunya dengan membentuk Peta GIS, sehingga dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.

sumber: Kapanlagi.com

Satu perubahan, banyak pekerjaan

20 January 2009

Sekitar kurang lebih satu tahun yang lalu, saya pernah bercerita tentang adanya perubahan jaringan yang hanya dengan sedikit perubahan di lapangan, akan menyebabkan banyak pekerjaan di bagian mapping.
Nah, awal tahun 2009 ini, ternyata hal tersebut terulang lagi. Kali ini terjadi di Jombang. Tidak tanggung - tanggung, ada beberapa LBS (Load Break Switch) yang di pasang di jaringan. Padahal, LBS adalah penanda section di jaringan, jadi dengan merubah section tersebut, nomor urut jaringan akan berubah. Ada berapa yang berubah? setiap LBS bisa mencapai 100 tiang lebih, jadi kita harus merubah nomor urut jaringan kurang lebih 100 item. Itu hanya untuk atribut Jaringan Tegangan Menengah (JTM) saja, belum termasuk atribut gardu, JT Rendah dan di pelanggan yang mencapai ribuan pelanggan.
Padahal ada kurang lebih 5 - 7 LBS baru di sana. Bisa di bayang kan berapa banyak data yang harus dirubah. Jadinya sering lembur.
tetapi itulah realitas yang terjadi dan harus dikerjakan, selamat lembur coyyyyy…..

Panjang jaringan, perencanaan dan pelaksanaan

13 December 2008

Ada cerita sebenarnya, hanya saja ini cerita lama. Tetapi tidak sempat saya tulis di sini karena suatu dan lain hal. Sampai kemudian lupa. Baru ingat bulan ini. Biar tidak lupa lagi, saya tuliskan untuk anda.
Suatu hari di bulan Februari 2008, ada bapak dari bagian perencanaan bertanya kepada saya, sebelum bertanya bapak tersebut bercerita. Berikut ini ceritanya.
Bulan depan (Maret - April 2008) akan dipasang jaringan baru dari gardu induk Mojoagung, Jombang untuk mengurangi beban trafo 6 Gardu induk Mojokerto. Pembangunan jaringan baru tersebut akan berjalan beriringan dengan jaringan lama, tetapi sebagian akan mem-by pass sehingga menjadi jaringan baru, nantinya jaringan baru ini bernama penyulang Gading ( karena melewati desa Gading, Jatirejo, Mojokerto). Sebagian jaringan akan menggunakan jaringan lama yang dimanuver, sebagian lagi menggunakan jaringan yang benar - benar baru.
Pertanyaannya adalah, berapa panjang jaringannya nanti? berapa banyak kebutuhan tiang baru? berapa panjang kabel baru yang dibutuhkan? berapa panjang jaringan lama yang di manuver?
Pertama kali mendengar dalam benak saya, koq banyak amat ya pertanyaannya?
Setelah lihat peta jaringan yang ada, melihat luas dan jarak daerah "kosong" yang akan dilalui oleh jaringan baru tersebut. Akhirnya dengan sedikit analisa ("sok pinter ini, padahal gak blas"), saya sodorkan data - data. Saya lupa detail data - datanya. Saya berikan data - data sesuai kebutuhan bapak tersebut sekaligus menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Sekilas bapak dari perencanaan tersebut "mengiyakan" kemungkinan kebenaran data tersebut.
Setelah itu lama tidak terdengar kabar lagi, sampai ada informasi dari bagian/seksi Operasi, bahwa penyulang baru, Penyulang Gading sudah dioperasikan. Data - data dari penyulang tersebut, bruuukkk !!! masuk ke maja saya.
Dilihat, dibaca, langsung di eksekusi. Lalu apa hubungannya dengan cerita bapak di atas?
Ternyata, data - data yang saya berikan sebelumnya, nyaris sama dengan hasil di lapangan. Artinya, dengan perencanaan yang baik, didukung data - data keruangan yang baik (GIS) dan dengan analisa yang akurat, maka kemungkinan ketidaksesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan di lapangan bisa di minimalisir.
Hal ini bisa juga untuk meminimalisir biaya, baik biaya konstruksi maupun biaya tenaga kerja, karena penjadwalan pekerjaan menjadi jauh lebih baik dan akurat. Karena dalam situasi krisis keuangan global ini, persoallan biaya menjadi sangat sensitif, siapa yang bisa memberikan biaya lebih rendah, maka dia yang akan kompetitif.
Sekali lagi, GIS menunjukkan perannya dalam pengambilan keputusan, baik di tingkat manajemen maupun di tingkat operasional.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here